Welcome (karpet :P)

Hello, welcome~~~~~ :)

Friday, March 7, 2014

Hujan.
Ini pertama kalinya aku duduk di situ. Di bagian teras, di dekat pintu keluar. Ada dua cangkir minuman panas di depanku, ada alat-alat tulis juga: kertas gambar, pensil, pensil warna, binder, penghapus, dan yang duduk di depanku. Masi pake celana training sekolah, belum mandi, kunciran poni air mancur. Hari itu aku nggak berhasil manfaatin kesempatan terakhir di SMA. Ini tahun kedua yang terakhir. "Nggak papa, udah to bagus ko tadi,". Adzan Isya, hening lama. Habis itu ngobrol banyak dari A sampai Z, balik lagi ke A loncat ke mana-mana. Ngomongin masalah minuman panas tadi, cara penyajiannya yang dikasi air panas dan disedian teh celup yang diseduh sendiri. Ngitung-ngitung harga teh di situ kalau untuk beli teh di toko malah bisa dapet sekotak teh celup. Hening beberapa kali. 

Hujannya berhenti. Tiba-tiba ada yang teriak di dekat pintu keluar. Seorang -yang maaf- hmm 'kurang sehat'. Sama-sama kaget, panik, agak ngeri juga. Berusaha tenang, ngamanin barang-barang di meja sambil nahan ketawa karena panik. Nggak lama, beliau pergi. Dan tiba-tiba muncul lagi dari bagian luar teras yang dibatasin pagar. Beliau bicara pakai bahasa Jawa, minta botol minum. Akhirnya dikasihin dan beliau pergi. Ketawa panik. Menertawakan kepanikan tadi. Hujan deras lagi. Mungkin karena itu malam Imlek (Yah tapi itu nggak ada hubungannya.). Hening lagi, sibuk sama kertas masing-masing. Hujannya berhenti lagi. Pulang. 
"Terimakasi ya, terimakasi :)". Butuh teman untuk ngobrol dan yang pertama aku hubungin nomer itu. Hmm aku merepotkan sepertinya, tapi iya memang gitu. 

Pernah nggak sih, kamu mengenal seseorang yang sama orang itu kamu bisa ngobrol banyak hal dari A sampai Z, bahkan hal-hal yang nggak penting sekalipun, tapi tiba-tiba besoknya orang itu kayak nggak kenal kamu. Hmm atau mungkin itu karena dari awal memang nggak bener-bener mengenal seseorangnya? Aku nggak tahu, selama ini berkali-kali kenal-nggak kenal-kenal-nggak kenal-nya jalan. Dan ternyata aku nggak sadar kalau aku ikut campur dan selalu berusaha nahan waktu mau jalan menjauh dari lingkaran-lingkarannya itu dan waktu mau nggak kenal. Sejak kapan jadi sepeduli itu? Cuma mencoba jadi teman yang baik, karena aku tahu kalau kamu punya pengaruh yang besar bagi teman-teman lain. 

Ntah, sebenarnya nggak tahu kenapa. Mungkin itu terakhir. Karena lagi-lagi semuanya bergerak ke tempat seharusnya masing-masing. Dan yang sekarang lanjut ke tempat masing-masing. 

Ini random, maaf, Dan ya suda.